Krisis energi merupakan salah satu masalah utama yang dihadapi Bangsa
Indonesia saat ini. Sumber energi fosil berupa minyak bumi, gas alam
dan batu bara yang selama ini dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan
sehari – hari baik untuk keperluan rumah tangga maupun untuk keperluan
industri dan transportasi semakin menipis seiring dengan bertambahnya
waktu. Sedangkan dari data grafik konsumsi energi pada tahun 1970 hingga
2002 di bawah ini, menunjukkan bahwa kebutuhan energi yang harus
dipenuhi masyarakat mengalami peningkatan dari tahun ke tahun terlebih
pada sumber energi berupa minyak bumi.
Kamis, 08 November 2012 | Diposting oleh Unknown di 00.16 |
Bahan Bakar Nabati Sebagai Solusi Menghadapi Krisis Energi
Sumber energi fosil merupakan energi yang tidak dapat diperbaharui (unrenewable energy)
atau tidak dapat diperoleh kembali setelah digunakan, maka diperkirakan
beberapa tahun ke depan ketersediaan sumber energi tersebut akan habis
di alam. Menurut perkiraan, batubara akan habis 50 tahun lagi, gas alam
30 tahun lagi dan minyak bumi 11 tahun lagi. Terbatasnya alat pemuas
kebutuhan manusia dalam hal ini adalah sumber energi fosil sedangkan
kebutuhan manusia itu sendiri banyak dan harus terpenuhi, tentu saja
akan menimbulkan akibat fatal jika hal tersebut dibiarkan berlarut –
larut tanpa adanya upaya penanggulangan, yaitu antrian berjam – jam di
depan halaman SPBU yang memungkinkan munculnya tindakan anarkis di
kalangan masyarakat karena berebutan demi memperoleh BBM langka yang
tersedia untuk kebutuhan hidupnya, penyaluran BBM yang tidak merata,
timbulnya masalah kriminalitas oleh oknum yang memanfaatkan keadaan ini
untuk kepentingan pribadi dengan cara menimbun BBM dan lain sebagainya.
Oleh karena itu, untuk meminimalkan dampak yang akan terjadi kemudian,
pemerintah melakukan impor minyak mentah dari luar negeri. Dengan
demikian, diharapkan kebutuhan manusia tetap terpenuhi dan keterbatasan
sumber energi fosil dapat ditanggulangi. Namun sangat disayangkan bahwa
usaha pemerintah tersebut kurang menguntungkan dalam jangka panjang
karena dengan melakukan impor berarti menambah biaya transportasi, biaya
angkut, pajak dan lain sebagainya, belum lagi nominal mata uang dolar
yang meningkat dari tahun ke tahun memungkinkan semakin besar biaya yang
harus dikeluarkan. Sebenarnya, tidak akan menjadi masalah besar jika
saja harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang nantinya disalurkan ke
masyarakat dijual dengan harga mahal. Mungkin saja keuntungan dapat
diraih atau paling tidak bisa menutupi keseluruhan pengeluaran biaya
pengadaan BBM tersebut ditambah dengan subsidi dari pemerintah yang
semuanya sudah tentu melalui perhitungan yang cermat. Namun masalah lain
akan muncul yakni masalah kemiskinan di kalangan masyarakat, utamanya
masyarakat kecil yang sehari – harinya berprofesi sebagai buruh, petani,
nelayan dan sebagainya yang penghasilannya tentu saja tidak begitu
besar dibandingkan dengan mereka – mereka yang bekerja di lembaga
kemasyarakatan. Kalau sudah begini, jangankan untuk makan, membeli BBM
saja tidak sanggup. Harapan mereka kemiskinan segera dituntaskan, namun
pada kenyataannya kemiskinan bukannya tuntas, tetapi malah semakin
merajalela. Dengan demikian, untuk kasus ini Indonesia benar – benar
terhimpit sedangkan pemerintah berada pada posisi yang sulit sehingga
perlu adanya suatu solusi alternatif lain untuk menangani masalah krisis
energi tanpa menimbulkan masalah baru di berbagai pihak. Selain hal –
hal yang telah dijelaskan di atas, minimnya kapasitas produksi pabrik
pengolahan minyak mentah juga turut memberikan pengaruh terhadap masalah
krisis energi. Dengan demikian, pemerintah harus mengupayakan bagaimana
cara meningkatkan kapasitas produksi jika pada saatnya telah ditemukan
solusi menghadapi keterbatasan sumber energi fosil.
Di
tengah – tengah bergemingnya masalah krisis energi di tanah air, Bahan
Bakar Nabati (BBN) hadir sebagai sebuah solusi tepat dalam menangani
masalah tersebut. Biodiesel, bioetanol, biogas dan briket yang akhir –
akhir ini mulai ditemukan oleh kaum intelek telah membuka asa dan
harapan bagi Indonesia untuk segera bangkit dari masalah krisis energi.
Manfaat dari BBN pun ini ternyata cukup menjanjikan untuk masa depan
Indonesia kelak. Dengan adanya BBN ini, tidak hanya masalah krisis
energi yang teratasi, tetapi juga masalah kemiskinan, keterbatasan bahan
baku SDA yang selanjutnya diolah menjadi bahan bakar, efisiensi
pemanfaatan sumber daya alam yang kurang bermanfaat menjadi lebih
bermanfaat dengan tujuan meningkatkan nilai tambah dan mutunya serta
manfaat lainnya yaitu dapat menciptakan generasi penerus yang kristis
menghadapi tantangan dunia, kreatif dan inovatif dalam menemukan
penemuan – penemuan baru yang berguna bagi Bangsa Indonesia di kemudian
hari.
Pada
dasarnya, bahan baku utama dari BBN tersebar luas hampir di seluruh
wilayah Indonesia karena ntayanya Indonesia kaya akan Sumber Daya Alam
(SDA) yang berlimpah. Dengan demikian, BBN mudah diperoleh dan harganya
relatif lebih murah dibandingkan dengan bahan baku BBM. Biodiesel yang
fungsinya dapat menggantikan solar sebagai bahan bakar kendaraan
bermesin diesel seperti truk angutan berat dapat dibuat dari tanaman
jarak pagar, minyak jelantah yang sudah tidak layak pakai, kelapa,
sirsak, srikaya, kapuk dan alga. Akhir Mei 2011, Menteri Energi dan
Sumber Daya Mineral (ESDM), Darwin Zahedy Saleh di dampingi Direktur
Jenderal Mineral dan Batubara, Thamrin Sihite meresmikan Biodiesel Fuel Plant yang beroperasi di Site PT. Adaro Indonesia, Kabupaten Balangan dan Kabupaten Tabalong, Tanjung, Provinsi Kalimantan Selatan.
Lain
halnya dengan bioetanol, bahan bakar ini bisanya dicampurkan dengan
bahan bakar bensin untuk meningkatkan bilangan oktan seperti zat aditif Methyl Tertiary Buthyl Ether (MTBE) dan Tetra Ethyl Lead
(TEL) sehingga dapat meningkatkan efisiensi pembakaran mesin kendaraan
dan mengurangi emisi gas buang berbahaya. Bioetanol berbahan dasar
jagung, ubi kayu, ubi jalar, sagu, dan tebu. Untuk biogas yang biasanya
digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, terbuat dari sampah organik
seperti kotoran sapi atau kerbau sedangkan briket merupakan bahan bakar
padat yang salah satunya dapat dibuat dari batok kelapa atau tempurung
kelapa (www.chem-is-try.org). Mengingat mudahnya memperoleh sumber bahan
baku utama BBN, pemerintah tidak lantas diam saja menunggu panen
kemudian memetik tanpa adanya upaya pengembangan tanaman dan ternak yang
berpotensi menghasilkan sumber energi tersebut. Melainkan perlu adanya
suatu program budidaya tanaman penghasil biodiesel, bioetanol dan briket
serta pemeliharaan hewan – hewan ternak penghasil biogas.
Dalam
memenuhi program tersebut, tentu saja memerlukan peranan dari
masyarakat kecil seperti para petani. Hal ini disamping membantu
pemerintah, juga membantu meningkatkan taraf hidup para petani yang
selama ini pendapatannya tidak seberapa besar. Dengan bekerja mengolah
lahan seluas beberapa hektar bersama pemerintah, dimungkinkan pendapatan
mereka bertambah ketimbang pendapatan yang dihasikan dari penjualan
hasil panen mereka sebelumnya yang diperoleh dengan susah payah.
Pemanfaatan
BBN sebagai sumber energi alternatif masa depan mendatangkan sisi
positif di mata masyarakat yang tidak peduli dengan sampah – sampah yang
acap kali mereka temui sepanjang jalan. Setidaknya dengan adanya BBN
ini, masyarakat berpikir dua kali untuk mengacuhkan sampah – sampah
tersebut yang kenyataannya dapat mendatangkan keuntungan bagi mereka.
Selama ini, mungkin mereka membiarkan sampah – sampah organik seperti
sampah sayuran, limbah tahu dan sebagainya berserakan dimana – mana.
Tetapi setelah tahu bahwa sampah tersebut dapat diolah menjadi bioetanol
dan biogas serta meningkatkan nilai manfaatnya dari sesuatu yang kurang
berguna menjadi sesuatu yang lebih berguna, sehingga tumbullah
kepedulian di dalam diri mereka. Dengan demikian, jelaslah bahwa BBN
juga akan mencetak masyarakat Indonesia yang kreatif dan inovatif dan
peduli terhadap lingkungan sekitarnya.
Menilik
pada potensi negara Indonesia yang besar terutama untuk ketersediaan
bahan baku, sudah sepantasnya negara Indonesia berani menunjukkan
potensinya kepada dunia sebagai negara penghasil bioenergi dunia.
Berbagai tantangan kedepannya dalam pengembangan bioenergi ini, terutama
pada aspek modal, pengembangan teknologi, permasalahan hambatan sosial,
dan keterbatasan pasar dan penguna sudah seharusnya menjadi tanggung
jawab bersama pemerintah, masyarakat, kaum intelek dan pihak-pihak
terkait untuk mencari solusinya. Diharapkan dalam 100 tahun ke depan,
Indonesia dapat menjadi jawara dunia dalam bidang energi. Dalam mencapai
harapan tersebut, harus disadari bahwa keberhasilan tidak datang dengan
sendirinya, tetapi merupakan suatu hasil kerja keras dari semua pihak.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar